Lirik-lirik Album Sakrat
Posted on April 27, 2008, under Lirik.
99
sembilan puluh sembilan namamu
kulakar pada kartu iman
ikut ku titip kepadang mimpi
awankah bakal menutup siluku
tika linglung menafsir
segala yang pernah bermula
padang mimpi ku pun rentung
menghirup nafas renta
pada segala yang punya nama
apakah aku juga didalamnya
sembilan puluh sembilan
oh namamu
kunaksir agar ruangmu masih
dapat ku nyeroboti
aku ingin diam sang bayi
aku ingin nyala pertapa
bergulir dalam lengkung bianglala
sembilan puluh sembilan namamu
dimanakah awal yang akhir
akan kukenderai jahar angin kepusarmu
mencicipi gizi maknawi
Catatan ditaman
puisi tak mau membenih disini
meski angin mendesah
dan sunyi berdakapan
mencicipi dingin malam
bulan pada bersembunyi
disebalik rumpun bambu
meluluhkan bayang-bayang
dan kata-katapun seperti
enggan mengapung
dikolam fikir yang kelam
Dalang
aku menatap lembar nasib
yang terbakar dikamar
gigil tubuh,apakah
ditulari takut
atau bara kata-katamu
yang menggelinding dikuping
kenapa tidak kusadari
ular yang mendelik
dan berdesis itu
bersembunyi disebalik tubuhmu
Kota angan
kota angan
mendakap berahi
tika sang tualang
menyandar mimpi kedada perawan
kota angan
menyita gelisah
ada kala dendam pecah
dan basah
gema kudus tak mampu
menampan gerah
iman pun menggelepar dalam diam
kota angan
kegalauan
Pulang
sehelai daun
kering tandus gugur
sebenarnya ia pulang
seekor ikan
renangi laut terbentang
sebenarnya ia pun pulang…
seorang aku
mengitari keakuanku
alpa….
sesungguhnya
akan pulang jua
dalam hitungannya….
Sakrat
sewaktu kau tiba
angin semilir jadi malu
untuk bertamu dikamar ini
membiarkan debar mengapung
tanpa disedari
ruang sempit ini dibalut gigil
lemas dan resah
gerah yang gelisah
gelora membadai kehalkum
segala keempukan duniawi
kini bagai ilusi tak tergapai
bergelut arakan kumulonimbus
berpinar segalanya menggelepar
pedih memilir
darah seakan enggan menyusuri rongga
dan sekoyongnya sejat
hati jiwadiri
terngadah kembali pasrah
Secangkir kasih
secangkir kasih
yang kuhirup
sejak pertemuan itu
kuhirup lagi…
berulangkali
kerana,
secangkir kasihmu
tak pernah kontang
dan aku peminum
yang tak pernah puas
Segenggam tanya,buat penunggu ragu
apa yang bakal kau titip
setelah sekoyongnya
bukit luluh oleh lenturan
suara itu
laut yang sering
menggendong gemuruh
menyodor sunyi pada pantai
dan tanah seperti kasur
sedang dibenahi
kala hujaman mata binar
melumatkan pilihan
pena,belati dan doa pun menjadi debu
sedang kau yang berpendar
dalam linglung
masih mengincar saat mau mengacung tashid
Seru
serulah namaku
dihujung penantianmu
tika gegar dan runcing
kesetiaan
sesekali igauan liar
merenggut tulus tanpa sedar
serulah namaku
keutuhannya akan datang
mimpi ngeri akan hilang
alunan rindu membayang
elusan rindu membayang
membahangkan nyala kasih
Terimakasih , realiti
tika buah mimpi ranum
meniduri malam yang harum
tekad dan angan berpencak
menakluki diri
aku pun menjadi seorang pelupa
ingin menyeretmu
kealam khayali
terimakasih,realiti
lantaran sempat menyentak
alpa dalam diri