Notes:

untuk pesanan album-album meor yusof aziddin boleh sms 012-5901798..tq

Cita-cita, takdir dan perjalanannya

0 comments

Dulu sewaktu kecil dulu saya bercita-cita untuk menjadi pelukis walau saya pun bukan faham sangat apa yang saya mahu waktu itu.

Abang saya yang tua, Meor Sariman atau Mishar adalah pelukis yang hebat bagi saya. Beliau dari kecil lagi sudah pandai mencari duit saku sendiri kerana kartunnya disiar di suratkhabar.

1973 abang saya berkahwin dengan orang Johor. Saya ke sana mengikuti mak saya dengan teksi. Bayangkan dari pekan Bruas naik teksi sampai ke Tangkak, Johor. Ha ha ha..Balik pun begitu juga, naik teksi juga. Sebahagian proses perjalanannya saya sudah lupa, yang saya ingat saya muntah di perjalanan.

Abang saya selalu membawa kawan-kawan dekatnya ke rumah saya di kampung sewaktu dia menjadi bos untuk majalah Gila-Gila. Kawan-kawannya itu seperti pelukis/kartunis terkenal Jaafar Taib, Rejabhad dan Zainal Buang Hussein dan beberapa nama lagi. Mereka adalah orang-orang penting dalam dunia kartun dan lukisan tanahair.

Cuma itulah, hidup berpusing-pusing seperti roda. Qada dan qadar Tuhan itu jelas lagi nyata. Faktor keseimbangan itu paling penting dalam aspek kehidupan kita, dalam apa hal pun. Terlebih yang di sana, kalau yang di sini kurang pun tak bagus juga. Selebih dan yang paling baiknya jadilah kita seorang penerima takdir yang dapat menerima takdir dan perjalanan hidup kita seadanya.

Sewaktu saya di dalam lokap tahun 2005 dulu, walaupun cuma 4 malam saya ditahan, banyak pelajaran yang saya dapat di situ. Dalam sel tersebut ada 8 orang termasuk saya. Semua mereka memang penagih tegar dan yang paling saya faham tentang mereka adalah mereka memang penerima takdir yang paling cool dan dapat menerima kisah dan perjalanan hidup mereka seadanya. Yang tidak dapat menerima takdir waktu itu cuma saya, memang tension. Ha ha ha

Cerita takdir adalah cerita yang variasi, bukan statik. Itu sebab walau sekaya manapun kita, masalah akan tetap ada dalam hidup kita. Kita ada dua pilihan di situ, samada memaki atau menerima takdir kita seadanya.

Cita-cita hanyalah sekadar cita-cita. Walaupun saya tidak menjadi pelukis hari ini, saya beruntung di sekeliling saya ramai pelukis-pelukis hebat dan mereka adalah kawan saya.

Hari ini jika ditanya apa cita-cita saya, saya akan katakan kehidupan ini adalah sesuatu yang indah untuk dinikmati, maka raikanlah!

Cita-cita kecil si anak desa- Ebiet G. Ade

Aku pernah punya cita-cita hidup jadi petani kecil
Tinggal di rumah desa dengan sawah di sekelilingku
Luas kebunku sehalaman ‘kan kutanami buah dan sayuran
Dan di kandang belakang rumah kupelihara bermacam-macam peliharaan

Aku pasti akan hidup tenang, jauh dari bising kota yang kering dan kejam
Aku akan turun berkebun mengerjakan sawah ladangku sendiri
dan menuai padi yang kuning bernas dengan istri dan anakku
Memang cita-citaku sederhana sebab aku terlahir dari desa

Istriku harus cantik, lincah, dan gesit
Tapi ia juga harus cerdik dan pintar
Siapa tahu nanti aku ‘kan terpilih jadi kepala desa
‘kan kubangkitkan semangat rakyatku dan kubangun desaku

Desaku pun pasti mengharap aku pulang
Akupun rindu membasahi bumi dengan keringatku
Tapi semua itu hanyalah tergantung padaNya jua
Tapi aku merasa bangga setidak-tidaknya ku punya cita-cita
Tapi aku merasa bangga setidak-tidaknya ku punya cita-cita

Share This Article On Facebook

468 ad

Comments are closed.