Notes:

untuk pesanan album-album meor yusof aziddin boleh sms 012-5901798..tq

Pasar Seni(yang semakin plastik)

0 comments

Saya kenal Pasar Seni tahun 1986. Tempat itu unik, sangat unik dan asli. Jiwa saya terus tertambat untuk ke situ setiap hari. Di situ saya kenal ramai kawan-kawan yang sealiran. Muzik dan seni. Apatah di situ ramai pengkarya melepak dan bersajak di bawah tiang lampu atau menonton Wahid pembusker yang busking saban petang di laluan pejalan kaki.

Pasar Seni memang mengasyikkan waktu itu. Di situ banyak orang gila juga. Entahlah, Pasar Seni memang pusat kejiwaan bagi pencari yang jiwanya kacau atau soul searching. Banyak cerita yang menarik waktu itu.

Bayangkan, kemana saya pergi saya akan merindui Pasar Seni, di situ tempat saya membesar dan menimba ilmu hidup, dari tahun 1986-2010.
Dan bayangkan juga, tahun 1993 saya berulang alik ke Sungai Buloh untuk rakam album di situ dan saya tinggal di Taman Ehsan, Kepong. Pun saya masih sanggup turun ke Pasar Seni walaupun untuk singgah di situ selama 10 minit sebab Pasar Seni di tutup pukul 10 malam, saya sampai 9.40 gitulah. Seakan ada magnet untuk saya ke situ.

Akan tetapi hari ini, segalanya berubah. Pasar seni yang saya anggap seperti rumah ke dua saya suatu waktu dulu sudah menjadi pusat kesenian yang semakin plastik dan tidak bernyawa. Seninya sudah luntur dek perubahan drastik para kapitalis yang niat mereka hanyalah mahu menjadikan tempat itu seperti Petaling Street atau Bukit Bintang.

Tempat untuk berbusking sudah menjadi tempat orang berniaga dan sudah dibaik pulih untuk tujuan komersial. Apa yang tinggal lagi di situ?

Saya mula tawar hati dengan Pasar Seni sejak tempat itu diambil alih pentadbirannya oleh para pelabur dari Singapura. Itu seperti mimpi ngeri bagi saya juga para-para peniaga atau pelukis yang melukis di situ. Dengan beban kadar sewa yang naik melambung berkali-kali ganda, apa pilihan yang mereka ada?

Apa yang tinggal hanyalah kenangan. Di situ tempat saya memulakan karier busking. Di situ tempat saya belajar erti hidup yang sebenar. Di situ saya kenal makna kejujuran dalam berkawan. Di situ saya kenal ramai manusia hebat dan di situlah juga tempatnya saya mula kenal orang rumah saya.

Ramai kawan-kawan yang bertanya saya tentang Pasar Seni. Saya sudah tidak menjejakkan kaki di situ hampir 4 bulan. Tempat itu sudah mati bagi saya. Ada yang ingat saya masih busking di situ.

Hari ini dari kita berkunjung ke Pasar Seni, lebih baik kita berkunjung ke pasar borong Sentul, sekurang-kurangnya kita boleh beli ikan, ayam atau daging dan sekurang-kurangnya tempat itu masih lagi asli dan realistik.

Seni itu perlu dinilai dari sudut kejiwaan, bukan material yang hanya membutakan matahati.

Elton John – Mona Lisas And Mad Hatters
from 1972 album “Honky Chateau”

“Mona Lisas and Mad Hatters” is a song from the Elton John album Honky Ch√Ęteau. It reflects Bernie Taupin’s take on New York City after hearing a gun go off near his hotel window during his first visit to the city. The song’s lyrics were partly inspired by Ben E. King’s “Spanish Harlem,” in which he sings “There is a rose in Spanish Harlem”. In response to this, Taupin writes, “Now I know Spanish Harlem are not just pretty words to say / I thought I knew, but now I know that rose trees never grow in New York City.” A more upbeat sequel to the song called “Mona Lisas and Mad Hatters (Part Two),” was recorded about 15 years later for Elton’s later album Reg Strikes Back.

Rolling Stone magazine’s Jon Landau praised the song when it was released, writing:”Mona Lisas and Mad Hatters” shows how much John can really do in the space of a single cut. Using minimal instrumentation and singing one of Taupin’s most direct lyrics, John effortlessly reveals the myth beneath the myth of “… a rose in Spanish Harlem.” He expresses his involvement with the city, his need for its people, and his final desire to be alone through one of his best tunes, simplest arrangements, and most natural vocal performances.

Elton himself has called the song “one of my all-time favourites” upon introducing it at his 60th-birthday concert in New York’s Madison Square Garden.

The song was used in the film Almost Famous, in a scene in New York City, highlighting the loneliness of one of the film’s characters.

The song was used in the finale of Life on Mars (U.S. TV series).
Catego

Elton John- Mona Lisa and Mad Hatters

And now I know
Spanish Harlem are not just pretty words to say
I thought I knew
But now I know that rose trees never grow in New York City
Until you’ve seen this trash can dream come true
You stand at the edge while people run you through
And I thank the Lord there’s people out there like you
I thank the Lord there’s people out there like you
chorus
While Mona Lisas and Mad Hatters
Sons of bankers, sons of lawyers
Turn around and say good morning to the night
For unless they see the sky
But they can’t and that is why
They know not if it’s dark outside or light
This Broadway’s got
It’s got a lot of songs to sing
If I knew the tunes I might join in
I’ll go my way alone
Grow my own, my own seeds shall be sown in New York City
Subway’s no way for a good man to go down
Rich man can ride and the hobo he can drown
And I thank the Lord for the people I have found
I thank the Lord for the people I have found
[repeat chorus]
And now I know
Spanish Harlem are not just pretty words to say
I thought I knew
But now I know that rose trees never grow in New York City
Subway’s no way for a good man to go down
Rich man can ride and the hobo he can drown
And I thank the Lord for the people I have found
I thank the Lord for the people I have found
[repeat chorus]

Share This Article On Facebook

468 ad

Comments are closed.